Connect with us

Lampung Selatan

Kelompok Pertanian Harapan Mulya Kelola UPPO, Ubah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik

Published

on

Poktan Harapan Mulya Kecamatan Sragi Kelola UPPO, Ubah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik

 

Ungkapselatan.com, Lampung selatan, Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik para petani di Desa Kuala Sekampung, khususnya di Dusun Sukarandek III dan sekitarnya, Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Peternakan Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2020 memberikan bantuan Usaha Pembuatan Pupuk Organik (UPPO) kepada Kelompok Tani Harapan Mulya.

Bantuan tersebut berupa delapan ekor sapi, mesin pengolah pupuk, bentor pengangkut, serta pembangunan rumah kompos. Program itu sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong petani mengurangi penggunaan pupuk kimia, karena berlebihan dapat merusak struktur dan pH tanah.

Ketua Kelompok Tani Harapan Mulya, Wanto, mengatakan keberadaan UPPO sangat membantu para petani, terutama ketika pupuk kimia langka. Menurutnya, pupuk organik hasil olahan kelompok bisa menjadi solusi alternatif untuk menambah unsur hara tanah.

“Pada waktu itu kita dapat info dari kedinasan ada bantuan UPPO untuk pemberdayaan petani. Jadi kita sepakat mengajukan karena ini sangat penting. Waktu itu pupuk kimia langka, jadi pupuk organik ini bisa menambah pasokan sekaligus memperbaiki unsur tanah,” kata Wanto saat diwawancarai, Kamis (18/9/2025).

Ia menjelaskan, proses pengolahan pupuk organik dilakukan secara sederhana melalui fermentasi kotoran sapi. Setelah matang, pupuk digiling dengan mesin, lalu dikemas dalam karung. Untuk sementara, hasil produksi hanya digunakan oleh anggota kelompok di Dusun Sukarandek III.

“Sekarang masih untuk internal kelompok saja. Alhamdulillah sudah dua kali penjualan. Hasilnya masuk ke saldo kelompok dan sebagian dipakai membeli pupuk kimia tambahan, karena walaupun pupuk dasar pakai organik, kita tetap butuh kimia juga. Jadi sementara kita jalankan sistem semi,” ujarnya.

Sempat Punya 14 Ekor Sapi

Selain rumah kompos, Wanto menyebut kelompoknya sempat memiliki 14 ekor sapi dari hasil pengembangan. Namun sebagian sapi dijual untuk peremajaan, agar kelompok bisa memilih ternak yang lebih produktif.

“Jumlah sapi kemarin sempat 14 ekor. Kemudian kita lakukan penyegaran, yang kurang baik kita jual dan diganti dengan sapi yang lebih produktif,” jelasnya.

Menurut Wanto, beternak sapi bukan hanya bermanfaat untuk menghasilkan pupuk organik, tetapi juga menjadi sumber tambahan ekonomi bagi kelompok. Hasil penjualan sapi digunakan untuk menutupi kebutuhan operasional serta mendukung keberlanjutan usaha kelompok.

Kendala Utama: Ketersediaan Pakan

Meski demikian, ia mengakui masih ada kendala dalam pengelolaan sapi, khususnya soal pakan. Jika tidak tersedia jerami, kelompok harus membeli pakan tambahan, yang tentu memerlukan biaya lebih besar.

“Kendala selama ini ya soal pakan. Sapinya kan banyak, jadi kebutuhan pakannya juga besar. Untungnya masih terbantu dengan jerami. Kalau ada jerami, kita pakai. Kalau tidak ada, ya kita beli. Syukurnya dengan menyimpan jerami kering, itu sangat membantu,” ungkap Wanto.

Ia menambahkan, ketersediaan jerami sangat berpengaruh pada keberhasilan program ini. Selain untuk pakan, jerami juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam proses fermentasi pupuk.

Manfaat Bagi Petani

Menurut pengakuan sejumlah anggota kelompok, keberadaan rumah kompos dan pupuk organik yang dihasilkan cukup membantu meringankan biaya tanam. Dengan adanya pupuk buatan sendiri, petani tidak sepenuhnya bergantung pada pupuk bersubsidi.

Bahkan, dalam jangka panjang, mereka berharap pupuk organik ini bisa dipasarkan ke luar kelompok. Namun untuk saat ini, prioritas pemanfaatan masih ditujukan bagi anggota agar hasil pertanian lebih maksimal.

“Yang jelas manfaatnya sudah terasa. Pupuk organik ini membantu kami mengurangi biaya produksi. Kalau nanti bisa dijual lebih luas, tentu akan lebih baik, tapi sekarang masih fokus untuk kebutuhan kelompok dulu,” kata Wanto menambahkan.

Dukungan Pemerintah

Program UPPO yang diberikan sejak 2020 diharapkan terus berkelanjutan. Pemerintah daerah mendorong kelompok tani untuk memanfaatkan bantuan sebaik mungkin agar produktivitas pertanian meningkat dan kesejahteraan petani lebih terjamin.

Dengan adanya sinergi antara petani dan pemerintah, diharapkan penggunaan pupuk organik semakin meluas. Selain menjaga kelestarian tanah, pupuk organik juga dianggap lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan.

“Bantuan ini benar-benar bermanfaat bagi kami. Harapannya, program seperti ini bisa terus berjalan agar petani tidak kesulitan pupuk dan hasil pertanian bisa semakin baik,” tutup Wanto.(rls)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lampung Selatan

Hama Beluk Serang Tanaman Padi ‎Di Sawah Palas

Published

on

By

Hama Beluk Serang Tanaman Padi ‎Di Sawah Palas

Ungkapselatan.com, Palas – Petani padi di Desa Palas Aji, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menghadapi ancaman serangan hama. Belum sepenuhnya lepas dari gangguan hama tikus, kini tanaman padi mereka diserang hama beluk atau penggerek batang yang menyebabkan bulir padi berwarna putih dan berpotensi gagal berisi.

‎Kondisi tersebut membuat petani khawatir mengalami kerugian saat musim panen tiba. Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan telah dilakukan, termasuk penyemprotan menggunakan pestisida. Namun, serangan hama masih menjadi persoalan yang meresahkan petani.

‎Keresahan itu disampaikan petani senior, Abdul Muthalib, saat ditemui di tanggul sawah pada Sabtu (10/10/2026). Ia mengatakan, musim tanam gadu kali ini menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan air hingga ancaman serangan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi.

‎“Luar biasa perjuangan musim ini. Selain memastikan kebutuhan air tercukupi, kami juga harus menjaga perkembangan dan pertumbuhan padi agar sehat, kuat, serta tahan terhadap serangan hama,” ujar Muthalib.

‎Ia menjelaskan, meskipun pasokan air dari aliran Way Pisang masih cukup membantu pengairan sawah, petani tetap menghadapi kekhawatiran terhadap serangan hama tikus dan beluk. Kondisi tersebut semakin menambah beban petani yang harus menjaga tanaman hingga masa panen.

‎Menurutnya, serangan beluk terlihat di sejumlah jalur persawahan, mulai dari jalur satu, dua, tiga hingga jalur lima. Pada beberapa bagian tanaman, bulir padi tampak memutih, yang diduga menjadi tanda gabah tidak terisi sempurna.

‎“Saya amati, hampir merata di beberapa jalur persawahan, buah padinya keluar putih. Kami sudah melakukan penyemprotan menggunakan pestisida, di antaranya yang disebut Vertako dan Incifio, tetapi serangan ini masih menjadi kendala,” keluhnya.

‎Muthalib yang mengaku biasanya memperoleh hasil panen hingga 10 ton per hektare itu berharap kondisi tanaman saat ini tidak berdampak besar terhadap produktivitas panen. Ia khawatir, apabila serangan terus meluas, hasil panen petani akan menurun dan pendapatan mereka ikut terdampak.

‎Di lokasi yang sama, petani setempat, Toiba, turut menyampaikan harapannya agar pemerintah melalui instansi terkait dapat membantu mencari solusi untuk mengatasi serangan hama tersebut.

‎“Dengan kondisi padi seperti ini, jika ada solusi dari pemerintah, kami berharap bisa dibantu mencari jalan keluarnya agar tidak mengalami kerugian yang dapat memengaruhi ketahanan pangan,” harap Toiba.

‎Sementara itu, Adi Ahdiansyah, S.P., selaku penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang bertugas di Desa Palas Aji, merespons informasi tersebut saat dihubungi melalui telepon seluler dan pesan WhatsApp.

‎Ia menyampaikan rencana untuk meninjau langsung kondisi tanaman padi di lokasi pada keesokan harinya.

‎“Besok kita lihat ke lokasi,” tulis Adi melalui pesan WhatsApp.

‎Kunjungan tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kondisi tanaman, memastikan penyebab bulir padi memutih, serta menentukan langkah penanganan yang tepat agar serangan hama tidak semakin meluas dan kerugian petani dapat diminimalkan. (Joe/Sam)

Continue Reading

Trending